TUJUAH KOTO TALAGO DI LUHAK 50 KOTO

1. Datuk  Bandaro Hitam  ke Talago

Menurut tukang kaba, dalam salah satu tambo- cerita historis tentang asal usul dan silsilah nenek moyang orang Minangkabau di Sumatera Barat, terdapat sebuah kerajaan Pariangan yang dipimpin oleh Datuak Bandaro Kayo. Ia memiliki saudara seayah bernama Datuak Ketumanggungan dan Datuak Perpatih Nan Sabatang. Suatu hari kedua saudara ini bertemu Datuak Bandaro Kayo guna membicarakan masalah kepadatan penduduk di kerajaan tersebut. Dalam pertemuan itu disepakati untuk memindahkan sebagian penduduk kerajaan ke daerah permukiman baru.

Setelah mengetahui daerah-daerah yang akan dijadikan permukiman baru, mulailah pemindahan sebagian penduduk ke tiga arah yakni Utara, Barat dan Timur. Daerah permukiman baru di sebelah Barat kemudian diberi nama Luhak (daerah) Agam. Daerah sebelah Timur dinamakan Luhak Tanah Datar. Sementara itu Datuak Sri Maharajo Nan Banego memimpin 50 orang menuju ke arah Utara daerah Payakumbuh. Tempat ini kemudian dikenal dengan Luhak Limo Puluah yang dalam perkembangannya menjadi Kabupaten 50 Kota. Untuk mengenang sejarah asal-usul nama kabupaten ini, pada lambang daerahnya dicantumkan angka 50. (Kompas 2001).

Dalam buku Nan Taserak Seputar Tambo & Perjuangan Rakyat Lima Puluh Kota yang ditulis Hikmat Israr tentang asal usul  Ninik Nan Lima puluh. Pada suatu hari, dari Luhak Tanah Datar berangkatlah satu rombongan yang terdiri dari lima puluh Penghulu bersama kaum keluarganya. Arah tujuan mereka daerah sebelah Utara Gunung Sago. Rombongan itu berasal dari berbagai kampung, koto dan suku serta mempunyai kedudukan dalam adat. Diantara mereka ada yang berkedudukan sebagi Pucuk Adat, ada Pamuncak, ada Khatib, ada Ampang Limo, ada Ulakcumano, ada Tumanggung,  Bungo Satangkai dan lainnya.

Mereka berangkat dengan membawa berbagai kebutuhan yang diperlukan dalam perjalanan, termasuk alat perkakas, senjata, panji-panji dan alam-alam, juga membawa tabuh-tabuhan dan bunyi-bunyian. Di samping itu ada pula yang membawa binatang ternak lengkap dengan tombak gumbalonya.

Setelah beberapa lama rombongan tersebut berjalan menempuh hutan belantara, meretas semak belukar, mereka mulai menurun dan di hadapan mereka terlihat suatu pemandangan yang indah dan luas, suatu dataran yang  subur.  Kemudian rombongan itu beristirahat berhenti melepas lelah pada sebuah tanjung, sambil menikmati keindahan alam. Di ujung tanjung ditancapkan sebuah alam-alam, pertanda bahwa tempat itu sudah disinggahi. Tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Tanjung Alam.

Setelah beristirahat rombongan meneruskan perjalanan menuruni lereng, mendaki  bukit menuju dataran luas yang terhampar di hadapan mereka. Mereka menyeberang sungai dan bermalam di beberapa tempat yang kemudian dikenal dengan nama antara lain Bukit Junjungan Sirih, Bawah Burai, Aie Taganang, Ngalau dan lain-lain.

Pada esok paginya mereka berkumpul  bersama-sama, tetapi setelah dihitung-hitung ada yang kurang lima Penghulu yang  tidak hadir. Penghulu yang hadir 45 orang, sudah jadi “Luak Lima Puluah” artinya kurang lima puluah. Anggota rombongan tidak ada yang tahu kemana perginya yang berlima itu, sehingga mereka saling bertanya-tanya. Jawaban mereka yang ditanya hampir sama yaitu “antah” artinya tidak tahu. Oleh sebab itu daerah tempat mereka berada pada waktu itu, kemudiannya bernama Padang Siantah. Letaknya antara Balai Panjang Limbukan dengan Piladang, di sebelah kiri jalan Payakumbuh – Bukittinggi.

Kemudian hari lima orang Penghulu dan keluarganya yang memisahkan diri dan tidak diketahui kemana perginya, didengar kabarnya bahwa mereka telah jauh mengembara ke arah timur. Mereka telah berkembang dan masing-masingnya telah berhasil membuat koto di sana yang kemudian disebut “Limo Koto”. Yang terdiri dari Dt. Bandaro Sati di Bangkinang, Dt. Permato Said di Kuok, Dt. Baramban di Air Tiris, Dt. Nan Gadang di Salo, Dt. Marajo Basa di Rumbio. Oleh sebab itu dahulunya Bangkinang dan sekitarnya termasuk daerah Kabupaten Lima Puluh Kota.

Setelah kehilangan lima orang Penghulu selanjutnya mereka berkumpul dan bermuwasyarah untuk menentukan langkah-langkah yang akan ditempuh. Kemudian mereka sepakat untuk menemui Dt. Edan Dirajo, orang yang telah dahulu turun ke daerah ini, untuk meminta nasihat, pendapat dan pertimbangan. Berdasarkan pendapat dan nasihat Dt. Edan Dirajo mereka dibagi dalam beberapa kelompok dan berpencar untuk mendapatkan daerah yang baik bagi permukiman sambil mencari lima kepala keluarga yang hilang.

Demikianlah mereka membentuk sepuluh kelompok kecil dengan jumlah dan tujuan yang berbeda. Dari sepuluh kelompok tersebut, maka kelompok ketiga berangkat menuju arah mudiak yaitu Dt. Rajo Mangkuto Nan Gujue ke Balai Talang, Dt. Bandaro Hitam ke Talago, Dt. Putieh Baringek ke Kubang. (Hikmat Israr 2009).

2. Luhak, Ranah, Kelarasan

Menurut pustaka lain, Luhak Lima Puluh Koto terbagi atas tiga jenis daerah yaitu Luhak, Ranah dan Kelarasan. Yang dinamakan Luhak ialah pemerintahan laras nan bunta sehingga Simalanggang hilir terus ke Taram. Yang dinamakan Ranah yakni pemerintahan Laras Batang Sinamar sehingga Simalanggang mudik dan ke hilirnya Ranah Tebingtinggi dan ke mudiknya Mungka. Yang dinamakan laras ialah Laras Nan Panjang sehingga Taram hilir ke mudiknya Pauh Tinggi.

Yang masuk bagian Luhak ialah Suayan, Sungai Belantik, Sarik Lawas, Tambun Ijuk Koto Tangah, Batu Hampar, Durian Gadang, Babai, Koto Tinggi, Air Tabit, Sungai Kamuyang, Situjuh Bandar Dalam, Limbukan,  Padang Karambia, Sicincin dan Aur Kuning, Tiakar, Payobasong, Mungo, Andaleh, Taram, Bukit Limbuku, Batu Balang dan Koto Nan Godang.

Yang termasuk Ranah ialah Ganting, Koto Lawas, Suliki, Sungai Rimbang, Tiakar, Balai Mansiro, Talago, Balai Talang, Balai Kubang, Taeh Simalanggang, Piobang, Sungai Baringin, Gurun Lubuk Batingkok, Tarantang, Sarilamak, Harau, Solok Bio-bio.

Yang dinamakan Laras yaitu Gadut Tebingtinggi, Sitanang Muaro Likin, Halaban, dan Ampalu, Surau dan Labuah Gunung. (H.Datoek Toeah, 1976)

Dalam adat jika sesuatu hal tidak dapat diselesaikan maka dibawa ke Aie Tabik yang mempunyai Balai Jariang. Fungsi Balai Jariang untuk menyaring hal-hal yang tidak bisa diselesaikan.

Hubungan dengan Aie Tabik berkaitan dengan Rajo Nan Balimo yang terdiri dari :

  • Rajo di Ronah yang berada di Talago.
  • Rajo di Hulu yang berada di Situjuh.
  • Rajo Lareh di Sitonang.
  • Rajo Sondi di Payakumbuh.
  • Rajo Luak yang berada di Aie Tabik.

3. Sejarah  Nagari Talago

Sejarah singkat Nagari Tujuah Koto Talago  yang dituturkan oleh Dt. Tumbi  dalam Data Potensi Nagari Tujuah Koto Talago dapat  dipaparkan sebagai berikut.  Informasi tentang sejarah dan adat Nagari Tujuah Koto Talago tertulis dalam tambo berbahasa Arab Melayu yang tersimpan di tangan Rajo Adat.             Pucuk Adat Nagari Tujuah Koto Talago atau disebut juga Rajo Adat adalah Datuk Bandaro Hitam.

Para Penghulu dan rombongan yang berangkat  ke daerah ini sesampainya  di Talago membentuk taratak, dusun, koto dan akhirnya Nagari. Selanjutnya setelah terbentuk Nagari maka dibentuklah sistem pemerintahan.

Pucuk pimpinan adat dipegang oleh Datuk Paduko Tuan. Setelah penduduk berkembang di Talago selanjutnya kelompok masyarakat tersebut pindah ke Ampang Gadang.

Di Ampang Gadang  mereka mendirikan pucuk adat sendiri yang dipimpin oleh seorang Datuk Pucuk yang bernama Datuk Karaing. Kebesaran Datuk Karaing ditunjukkan melalui kekuasaannya atas wilayah atau rimbo. Jadi untuk setiap penggunaan tanah di Nagari Tujuah Koto Talago haruslah terlebih dahulu mendapat izin dari Dt. Karaing. Tanah ulayat Datuk Karaing Suku Pitopang sangatlah luas mulai dari Ampang Gadang, Padang Japang, Koto Kociak terus ke perbukitan Padang Kandi sampai perbatasan Talang Maur.

Datuk Karaing bersuku Pitopang dan urang Pitopang  berhantu, Hantu Pitopang namanya. Urang Pitopang banyak pantangan dan bertanah ulayat sangat luas. Jadi kebiasaan pula jika urang kaum Pitopang barolek biasanya hari hujan dan jika pantangan Hantu Pitopang dilanggar akan mendapat petaka.

Karena penduduk berkembang jua maka permukiman diperluas. Sebagian penduduk pindah ke Tanjung Jati. Datuk Pucuk di daerah ini bernama     Datuk Bosea Nan Elok. Kebesaran Datuk  Bosea Nan Elok adalah pada pakaian.

Setelah itu penduduk makin berkembang jua sehingga muncul koto baru yang dinamakan Koto Kociak. Datuk Pucuknya bernama Dt. Tan Marajo yang memiliki kekuasaan atas arak iring. Arti arak iring  yaitu kalau ada upacara adat , datuk inilah yang berwenang mengaturnya. Selanjutnya tumbuh koto baru yang diberi nama Sipingai.

Kekuasaan Datuk Tan Marajo meliputi Koto Kociak dan Sipingai. Datuk Karaing berkuasa atas Padang Kandi, Padang Japang, dan Ampang Gadang.

Hingga kini ninik mamak yang ada di Nagari Tujuah Koto Talago berjumlah 251 orang. Mereka  berada di bawah Ka Ampek Suku Nagari yang terdiri dari  empat orang yaitu:

  • Datuk Paduko Tuan.
  • Datuk Karaing.
  • Datuk Bosea Nan Elok.
  • Datuk Tan Marajo.

Dalam riwayat,  di zaman Belanda tersebutlah seorang yang gagah berani bernama Sijambi bergelar Angku Nan Biru keturunan Datuk Bandaro Hitam. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda sehingga akhirnya terbunuh dalam suatu peperangan di lapangan yang hingga kini disebut Lapangan Bola Angku Nan Biru di Ampang Gadang.

Jika ditilik nama Talago secara alami maka talago berarti suatu penampungan air atau telaga. Menurut pengertian adat, talago berarti suatu kumpulan yakni kumpulan adat. Seluruh adat  berpusat di Talago.

This entry was posted in Sejarah 7 Koto. Bookmark the permalink.

One Response to TUJUAH KOTO TALAGO DI LUHAK 50 KOTO

  1. Mr WordPress says:

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s