Partisipasi Masyarakat dalam Pengendalian Daya Rusak Air, Sungai Brangkal Mojokerto

Curah  hujan makin meninggi  intensitasnya bulan Desember 2010 ini. Bahaya banjir telah dan akan mengancam dimana-mana. Biasanya puncak banjir terjadi bulan Februari. Desa Sooko dilintasi oleh Sungai Brangkal anak sungai Brantas. Masyarakat Sooko Mojokerto tidak akan melupakan bahaya banjir besar yang melanda desa mereka tahun 2002 dan  2004.  Hingga kini setiap tahun bahaya banjir masih mengancam tetapi tidak sehebat dan mencelakakan jiwa dan harta  seperti tahun 2004.

Akibat bahaya banjir Sungai Brangkal pada Februari 2004,  Desa Sooko tenggelam lebih dari satu  meter.  Setengah makam di Desa Sooko, terutama pada Gang 2 dan Gang 1 hilang, Lebih dari 60 % kendaraan roda empat  di Desa Sooko terendam sehingga membutuhkan biaya tidak sedikit untuk memperbaikinya. Desa terendam lumpur pasca banjir sehingga seluruh saluran air tersumbat dan terjadi pendangkalan saluran sampai sekarang. Masyakat tidak bisa bekerja selama satu minggu dengan kerugian  ongkos  pekerja Rp. 600.000 per KK  x  3300 KK = Rp.  1.980.000.000,- Kerugian membersihkan rumah dengan biaya  membersihkan   Rp. 800.000  x  3300 KK  = Rp. 2.640.000.000,-

Kerugian pengrajin sepatu Rp. 10.000.000.000,- Kerugian toko bahan sepatu dan bahan pokok makanan Rp. 4.000.000.000,- Akibat lumpur tersebut setiap kali hujan di Desa Sooko,  Gang 1 sampai Gang 8, Dusun Mangelo Kidul, Sooko Indah, Pondok Teratai, Bumi Sooko Permai, terendam air  setinggi 60 cm. Data di atas diperoleh dari petugas  Desa Sooko Mojokerto.

Di mana Desa Sooko?  Desa Sooko berada dalam  wilayah Kecamatan Sooko sekitar 13 kilometer dari Trowulan Mojokerto yang diyakini bekas Kota Kerajaan Majapahit berdasarkan ratusan situs yang ditemukan di daerah ini .

Kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan  yang besar dan termashur baik di kepulauan nusantara maupun di luar negeri di bawah Pemerintahan Raja  Hayam Wuruk dan Patihnya Gajah Mada.  Situs peninggalan Kerajaan Majapahit diperoleh melalui penelitian yang panjang.  Penelitian terhadap Situs  Trowulan dilakukan oleh Wardenaar (1815), penelitian berikutnya oleh WR. Van Hovell (1849).

Di bawah kota Kerajaan Majapahit  daerah Trowulan dijumpai banyak saluran terowongan irigasi untuk mengairi sawah penduduk pada zaman itu. Kitab Perundang-undangan  Majapahit pasal 259 dan 261 berbunnyi: barangsiapa menelantarkan sawah dan ternaknya akan dikenakan denda atau diperlakukan sebagai pencuri dan dikenakan pidana mati. Hayam Wuruk sadar bahwa penggarapan sawah dan pemeliharaan ternak yang baik dapat mempengaruhi perekonomian rakyat dan negara. ( Drs. I Made Kusumajaya, M.Si dkk)

Tanda kuning dalam peta adalah limpahan aliran banjir sungai Brangkal  tahun 2004 sehingga merendam Desa Sooko Mojokerto.

Apa dan bagaimana partisipasi masyarakat  dalam pengelolaan sumber daya air ?

Partisipasi masyarakat adalah suatu proses keterlibatan masyarakat secara  sadar dan nyata dalam serangkaian proses pembangunan mulai dari tingkat perencanaan (perumususan kebijakan) hingga pada tingkat pengendalian (pengawasan dan     evaluasi ) program pembangunan.

Pengelolaan sumber daya air yaitu upaya merencanakan, melaksanakan, memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air.

Seperti diketahui,   Kementerian Pekerjaan Umum telah membentuk 31 BBWS/BWS (Balai Besar Wilayah Sungai/Balai Wilayah Sungai) di seluruh Indonesia untuk pengelolaan sumber daya air  (Permen PU No. 11A/2006, tentang Kriteria dan Penetapan Wilayah Sungai dan  Permen PU No. 12 dan No. 13 Tahun 2006, yaitu tentang susunan organisasi dan tata kerja BBWS/BWS)

Berkaitan dengan ini telah diadakan kerjasama teknik (Technical Cooperation) antara Kementerian  Pekerjaan Umum dan Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan judul Capacity Development Project for River Basin Organizations in Practical Water Resources Management and Technology in the Republic of Indonesia”.

Proyek kerjasama teknik ini dimaksudkan untuk peningkatan kemampuan organisasi-organisasi wilayah sungai di Indonesia, melalui bantuan tenaga ahli, pelatihan dan peralatan untuk jangka waktu tiga tahun mulai tahun 2008.

Untuk itu, Kementerian  Pekerjaan umum membentuk sebuah unit pelaksana teknis dengan nama Unit Diseminasi untuk Pengelolaan dan Teknologi Sumber Daya Air (Dissemination Unit  for  Water Resources Management and Technology – DUWRMT) yang berkedudukan di Surakarta.

Bidang-bidang kegiatan (subjects) pengelolaan sumber daya air dari BBWS/BWS yang memerlukan peningkatan kemampuan meliputi  sembilan  bidang sebagai berikut:

1)       Hidrologi.

2)       Manajemen Alokasi Air Daerah Aliran Sungai.

3)       Manajemen Banjir Secara Terpadu.

4)       Manajemen Daerah Aliran Sungai.

5)       Operasi dan Pemeliharaan Bendungan.

6)       Operasi dan Pemeliharaan Sungai.

7)       Manajemen Kualitas Air.

8)       Manajemen Daerah Rawa.

9)       Partisipasi Masyarakat.

Mengapa dengan partisipasi masyarakat ? Paradigma pembangunan top down yang selama ini dijalankan, ternyata telah mengabaikan kemampuan masyarakat bawah untuk  turut berpartisipasi dalam mensukseskan daya tumbuh dan daya saing.

Dalam Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air disebutkan bahwa sejalan dengan semangat demokratisasi, desentralisasi dan keterbukaan dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, masyarakat perlu diberi peran dalam pengelolaan sumber daya air.

Pilot Proyek Partisipasi Masyarakat dalam Pengendalian Bahaya Banjir di Sooko Mojokerto

Berkaitan dengan bahaya banjir yang setiap tahun melanda Desa Sooko maka  masyarakat Desa Sooko bergerak melindungi desanya dari bahaya banjir dengan membuat tanggul sederhana dari tumpukan karung-karung tanah. Perbaikan tanggul banjir dilakukan setiap tahun sejak 2004. Pengadaan karung dan tanah dilakukan secara swadaya dan pengerjaan perbaikan tanggul dilakukan secara gotong royong oleh masyarakat desa.

Sungai Brangkal mengalir di pedataran daerah Sooko dan bermuara  ke Sungai Brantas. Lebar sungai berkisar 40 m- 50 meter.  Sungai berpalung bentuk huruf V.  Terdapat  tanggul  tanah   dengan ketinggian yang tidak sama di sepanjang tepi kanan.  Jika terjadi banjir tahunan muka air banjir mencapai “bibir” tebing sungai. Bagian kiri sungai masuk wilayah Kota Mojokerto dan bagian kanan sungai masuk wilayah Kabupaten Mojokerto.

Sehubungan dengan kegiatan partisipasi masyarakat dalam DUWRMT maka dipilih Desa Sooko yang dilintasi aliran Sungai Brangkal anak Sungai Brantas, yang termasuk dalam wilayah kerja BBWS  Brantas. Sebelum kegiatan pilot proyek partisipasi masyarakat dalam pengendalian bahaya banjir ini, telah dilakukan kegiatan sosialisasi awal tahun 2010.

Sosialisasi merupakan tahap awal penting dalam pelaksanaan program. Hal ini menyangkut strategi untuk meraih simpati dan kebersediaan masyarakat untuk terlibat. Bersedia atau tidak bersedianya masyarakat untuk terlibat dalam program, sangat ditentukan oleh menarik atau tidak menariknya isi sosialisasi. Sosialisasi yang tidak menyentuh persoalan mereka tentunya akan diabaikan dan masyarakat enggan untuk datang lagi dalam pertemuan.  Sedangkan isi sosialisasi yang menarik dan mendapat respon yang baik dari masyarakat, merupakan celah yang berharga untuk menyusun rencana tindak lanjut yang lebih konkrit dalam program mereka. Masyarakat biasanya tertarik kalau menyentuh hajat hidup mereka, mendapat akses serta manfaat yang bisa diambil untuk keberlangsungan hidup mereka.

Pemilihan desa Sooko sebagai pilot proyek  karena daerah ini pernah dilanda banjir besar, masyarakatnya  berkemampuan tinggi bergotong royong dan berkemauan dalam mengendalikan bahaya banjir. Di samping itu diharapkan kegiatan partisipasi masyarakat dalam pengendalian bahaya banjir ini dapat dijadikan contoh bagi peningkatan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air dan dapat pula didesiminasikan ke BBWS/BWS lain di  Indonesia.

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan,  dengan arahan JICA dan Counterpart Bidang Public Participation, masyarakat membentuk organisasi yang diberi nama Forum Peduli Banjir Desa Sooko Mojokerto. Organisasinya sederhana dipimpin oleh seorang ketua, seorang sekretaris, seorang bendahara dan  dua orang koordinator dan dengan tenaga sukarelawan 42 orang. Organisasi ini mengorganisir masyarakat di delapan dusun Desa Sooko.

Kegiatan lain yang dilaksanakan dalam pilot proyek ini yaitu pembuatan peta banjir berbasis masyarakat pertengahan 2010.

Peninggian dan pelebaran tanggul banjir secara sederhana di daerah yang kritis dengan timbunan karung tanah pada sisi kanan Sungai Brangkal dikerjakan  awal Desember 2010.

Pemesanan alat Peringatan Dini Banjir dilakukan awal November 2010 dan pemasangannya dilakukan awal  Desember  2010.

Perbaikan drainase  dan pengalihan tempat pembuangan sampah dari tepi/bantaran  sungai ke tempat penampungan direncanakan Januari  2011 dan pelatihan evakuasi banjir yang melibatkan seluruh komponen masyarakat direncanakan pada Februari 2011.

Seluruh kegiatan sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat yang tergabung dalam LSM Forum  Peduli Banjir  (FPB) Desa Sooko Mojokerto. Material seperti karung, tanah, pasir, kerikil dan semen dibantu oleh JICA. Supervisi kegiatan dilakukan oleh Counterpart JICA Bidang Public Participation, petugas DUWRMT, Dinas Pengairan Mojokerto, dan  personil BBWS Brantas. Bupati Mojokerto mendukung penuh kegiatan ini.

Di samping perbaikan tanggul banjir secara sederhana, dipasang pula alat peringatan dini banjir di dua tempat di Sungai Brangkal. Alat  diadakan  oleh JICA. Perancangan alat oleh Mr. Ueno dan dibuat di Jakarta oleh perusahaan Secoom. Sedangkan pemasangan alat dan pengoperasian alat tersebut oleh FPB Sooko.

Alat peringatan dini banjir sensornya ditempatkan di tepi sungai masuk ke dalam air sungai dan dihubungkan ke monitor di ruangan operasi. Jika terjadi banjir dengan ketinggian muka air sungai tertentu alat tersebut memberikan sinyal ke monitor. Di monitor timbul suara tanda bahaya untuk berbagai keadaan tinggi muka air di sungai.

Via sms petugas memberi tahu seluruh warga sehingga penduduk akan siaga.  Jika tinggi muka air banjir sungai dalam posisi bahaya maka warga diungsikan  ke tempat evakuasi. Gudang Bulog dan Pupuk di Sooko dijadikan tempat pengungsian.

Foto-foto berikut adalah kegiatan pelebaran dan peninggian    tanggul Sungai Brangkal dengan tumpukan karung tanah oleh Forum Peduli Banjir Desa Sooko Mojokerto.

Tahapan pekerjaan perbaikan tanggul dilakukan dengan mendatangkan tanah timbunan ke lokasi, pengisian karung-karung dengan tanah, pengangkutan karung tanah ke tanggul kritis, dan penyusunan karung-karung tanah di tanggul yang kritis. Tanggul kritis dilebarkan dan ditinggikan.

Penutup

Dengan pelaksanaan kegiatan pilot proyek partisipasi masyarakat  di Desa Sooko Mojokerto,   diharapkan dapat  di diseminasikan   bagi  personil BBWS/BWS di Indonesia dalam melibatkan masyarakat agar berperan aktif dalam pengelolaan sumber daya air.

*) Prof.  Erman Mawardi, Peneliti Utama di Puslitbang SDA, Pengurus HATHI Cabang Bandung & Anggota Dewan Pengurus LPJKD JABAR

This entry was posted in partisipasi publik. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s