Biografi Penulis

BIODATA

Prof. Drs. H. Erman Mawardi, Dipl. AIT

Lahir    di        : Padang Japang,  Payakumbuh

Tanggal lahir   : 17 Juli 1948

Pendidikan :

1979-1980     Asian Institute of Technology, Bangkok

1969-1975     IKIP Bandung, FKIT, Jurusan Sipil

1964-1967      STM Negeri Payakumbuh

1961-1964     SMP Negeri  Dangung-Dangung

1955-1961      Sekolah Rakyat,  Di  Bagan Siapi-Api,  Bengkalis,  Koto Kociak,  Padang Japang dan Ampang Gadang.

Pendidikan Non Gelar

2010 ;     Training River Management  di  Saitama Jepang.

1992 ;     Training Irrigation & Drainage Engineering                                                                   di NRIAE Tsukuba City,  Jepang

1991 ;     Sekolah  Pimpinan Administrasi Tingkat                                                                 Lanjutan (SEPALA) di Bandung

1988 ;      Training Water Sector di Denpasar

1988  ;    Training for Dam Savety di Bandung

Riwayat Jabatan

2005 – sekarang            :   Profesor Riset

2003                             :   Ahli Peneliti Utama  Bid. Hidrolika

2001                             :   Ahli Peneliti Muda Bidang Hidrolika

1997                             :   Peneliti Madya  Bidang Hidrolika

1993                             :   Peneliti Muda  Bidang Hidrolika

1991                             :   Ass. Peneliti Madya Bid. Hidrolika

1990 – 1994                  :   Kepala Subag TU Balai  Hidrolika

1973 – 1974                   :  Calon PNS  di  DPMA, Dep. PU

1974- sekarang             :   PNS di Puslitbang SDA

1967-1969                    :    Pegawai Proyek Tersier Jatiluhur

1969-1974                    :  Pegawai Harian LPMA, DPMA

Organisasi

2005 – sekarang;  Ketua Sakato Bandung

2000 – 2010      :   Ketua Umum Gonjong Limo Bandung

2005 -2010       :   Pengurus IKM Bandung

2004 – sekarang:   Anggota Dewan Pengurus LPJKD Jabar

1983 – sekarang :  Pengurus Pusat HATHI

2007 – Sekarang : Pengurus HATHI Cabang Bndung

Alamat & Keluarga

Kantor : Puslitbang Sumber Daya Air

Jl. Ir.  Juanda 193 Bandung, Tlp. 022-2505936

Rumah  : Jl. Dago Barat No. 11 F Bandung 40135

Telp. 022 – 2505281

E-mail    : erman.mawardi@yahoo.com

HP         : 081 321 129 687

Ayah      :  H. Mawardi, HN – Alm. (Pelda  TNI-AD)

Ibu          : Hj. Roslina Karanin

Istri          : Hj. Tuti Indrawati Rahman

Anak        : Erika Nandina Mawardi, S.Si

Sayed Ahmad Serpiko Mawardi, SE

Mohamad Oki Sandrino, S.Si

Sandriani  Azizi Mawardi, S.Si

Menantu :  Ade Hendra, ST

BIOGRAFI

  1. 1. Dari Padang Japang ke Jepang

Kata ibu, aku dilahirkan di Padang Japang saat bergolak perang dengan Belanda tanggal 17 Juli 1948. Etek Rostian seorang PMI dari Tanjung Jati yang membidani kelahiranku. Dalam surat menyurat kelahiranku ditulis Payakumbuh untuk memudahkan pengenalan asal kelahiran. Anak tertua dari tiga bersaudara.

Sampai umur tujuh tahun aku belum dapat mengingat semua yang terjadi. Tapi setahuku kami tinggal di baruah Pitopang, Padang Japang  di rumah bentuk surau, bukan rumah godang dan bukan pula rumah gedung tapi rumah yang sederhana.

Mengikuti ayah seorang tentara kami sekeluarga pindah ke Bagan Siapi-Api. Di sinilah aku mulai pendidikan Sekolah Rakyat. Dari Bagan Siapi-api kami pindah ke Bengkalis, sehingga sekolahku juga bermutasi ke sana.

Sebelum pecah pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Barat kami sekeluarga telah pindah ke Payakumbuh dari Bengkalis dan tinggal di asrama tentara tidak jauh dari  Simpang Benteng Payakumbauh. Saya melanjutkan SR di Koto Kociak dan tinggal bersama nenek dan datuk dari pihak ibu. Saya ke sekolah naik kareta ketek yang pada waktu itu sangat mewah dan belum dijumpai di nagari awak. Orang-orang kampung memperbincangkannya. Hingga kini orang yang mengenal saya saat itu masih ingat akan Erman yang berkareta ketek.

Suatu hari pada tahun 1958 ayahanda pulang ke rumah di Padang Japang dengan sangat tergegas-gegas. Tak lama kemudian ia pergi dan tak terdengar beritanya. Ia hilang bagaikan ditelan bumi. Kata orang beliau pergi ke luar negeri untuk mengambil senjata bagi tentara PRRI. Ayahanda waktu itu bagian perbekalan di ketentaraan. Bertumpuk-tumpuk pakaian hijau, peluru  senapan dan perbekalan tentara lainnya di simpan di rumah. Ayahanda diketahui keberadaannya pada tahun 1961 yang disampaikan temannya. Ia ditangkap di perairan Riau lalu dibawa ke Pekanbaru dan selanjutnya ke Padang dan ditahan di rumah tahanan tentara di Padang.

Saat pecah pergolakan PRRI, saya pindah sekolah dari Koto Kociak ke Padang Japang. Ruang sekolah menggunakan sekolah Darul Funun. Di kala itu saya sempat menyaksikan dengan mata kepala sendiri dari baruah, penyerangan pesawat tempur tentara pusat terhadap tentara PRRI yang berada di daerah perbukitan Bukit Cintuak/Bukit Andiang.

Usai perang tahun 1961 saya pindah sekolah lagi ke SR Ampang Gadang sampai tamat tahun 1964. Ujian akhir nasional di SR hanya   tiga mata pelajaran yang nilai tertingginya 30. Waktu itu nilai saya 27 di bawah Yufli dan Ati yang bernilai 29. Seterusnya saya memasuki SMP di Dangung-Dangung. Karena usai perang atau entah kenapa murid yang masuk SMP Dangung-Dangung  meledak. Saya kebagian di Kelas    1 F yang belajar di sore hari. Di SMP prestasi saya cukup baik, jadi juara kelas tapi tidak mencapai juara umum seluruh kelas.

Selanjutnya saya meneruskan ke STM Negeri Payakumbuh tahun 1964. Sebetulnya saya ingin melanjutkan ke SMA Payakumbuh. Aku teringat waktu itu dimana ibuku dan datuk (ayah ibu) menganjurkan masuk ke STM. Alasannya sangat sederhana. Jika tidak bisa melanjutkan pelajaran ke sekolah yang lebih tinggi maka setidaknya dapat memperbaiki kurungan yang rusak. Kurungan adalah tempat buang hajat yang dibangun di tobek.  Di STM, saya diterima di jurusan Bangunan Air, suatu jurusan yang tidak populer. Tetapi ternyata kemudian hari jurusan ini mengantarkan saya ke Proyek Tersier Jatiluhur pada tahun 1968. Proyek besar kala itu di Karawang Jawa Barat.

Sewaktu  belajar di STM, pada tahun 1966 terjadi pemberontakan PKI. Kami siswa STM bergabung dengan KAPPI ( Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang ikut berdemo menentang PKI. Dalam aksi demo ini suatu hari dilakukan pengganyangan termasuk warga Cina di Payakumbuh yang mungkin tidak ikut campur, tapi kena getahnya. Kami siswa STM  kebagian wilayah di sepanjang jalan ke Batang Agam dari arah Bofet Sianok. Barang-barang toko Cina habis semuanya dikeluarkan dan ditumpuk di jalan raya.

Di samping ikut KAPPI saya juga ikut organisasi PII ( Pelajar Islam Indonesia). Kongres besar PII diadakan di Bandung pada tahun 1966.  Organisasi PII menunjuk saya menjadi salah seorang peserta mewakili PII Cabang Lima Puluh Kota  ke Bandung. Inilah waktu pertama kalinya saya berkenalan dengan Bandung dan waktu ini juga saya mengetahui bahwa di Bandung ada ITB dan ATPUT (Akademi Teknik Pekerjaan Umum).

Setamat STM di akhir tahun 1967, dengan bekal dari ibunda,  uang Rp. 3000,- sekantong pakaian, dua bungkus rendang dan bersendal saya  menuju Padang dan Teluk Bayur menaiki kapal menuju Jakarta. Waktu ini adalah zaman sangat susah. Perekonomian jatuh. Uang dipotong dari Rp. 1000,- menjadi Rp. 1,-. Ayahanda sudah pensiun dari TNI-AD tak dapat memberi bekal apapun hanya doa.   Dengan tekad untuk melanjutkan sekolah sambil bekerja, dengan Bismillah aku naiki kapal Kwan Moru, meninggalkan Teluk Bayur diiringi nyanyian Teluk Bayur Elly Kasim.

Kita berkehendak, Allah swt berbuat. Suatu kenyataan pahit menghadang setibanya saya di Bandung. Masuk ITB tak bisa, karena tamatan STM disyaratkan  berpengalaman dua tahun untuk bisa masuk ITB. Masuk ke ATPUT juga tak bisa karena tak menerima dari umum. Yang diterima hanya utusan dari pegawai PUTL.

Hingga kini aku masih ingat dan tak akan terlupakan sepanjang masa. Ir. Alidinar Nurdin Pemimpin Proyek Tersier Jatiluhur , asli Solok Sumbar yang sedang berada di asrama mahasiwa ATPUT menawari saya untuk bekerja di Karawang di kantor yang dia pimpin. Begitulah Allah swt Maha Kaya dan Maha Tahu. Tak dapat masuk ke perguruan tinggi, Allah swt mengantarkan saya ke Proyek Tersier Jatiluhur. Inilah arahan Sang  Pemurah buat saya. Januari 1968 saya mulai bekerja di Proyek besar tersebut. Kehidupan di proyek bergaji awal Rp. 1500,- /bulan saya jalani selama dua tahun.

Tekad untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi tak kunjung padam. Di masa itu akhir tahun 1968 saya minta berhenti untuk melanjutkan sekolah. Lagi-lagi Allah swt menolong saya. Pemimpin Proyek tak mengizinkan saya berhenti. Allah Maha Besar. Ia memindahkan saya ke Bandung.

Pada awal tahun 1969 saya ikuti testing masuk perguruan tinggi dan diterima di IKIP Bandung, Fakultas Keguruan Ilmu Teknik, Jurusan Sipil. Biaya masuk dan biaya di perguruan tinggi, serta biaya hidup, saya gunakan tabungan uang yang diperoleh selama bekerja di proyek. Dalam setahun uang simpanan ludes. Lagi-lagi Allah swt menolong saya. Syofyan Dt. Majo Kayo teman sekuliah menginformasikan di tempat ia bekerja sedang menerima pegawai. Saya mengajukan lamaran dan diterima. Saya utarakan ke Pimpinan Kantor LPMA  bahwa saya sedang kuliah tapi saya juga ingin bekerja. Beliau mengizinkan kuliah sambil bekerja. Dalam waktu tujuh tahun, saya selesaikan kuliah pada akhir tahun 1975. Syukur terhadap-Nya dengan biaya sendiri kuliah dapat saya selesaikan dan menamatkan kuliah paling awal dari seluruh teman seangkatan. Tahun 1976 saya berumah tangga dengan Tuti Indrawati,  kemenakan datuk saya dari pihak ayah.

Allah swt memberi rezeki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Setiap orang punya rezeki sekalipun semut. Anak pertama saya lahir dan saya mendapat fasilitas Rumah Dinas.   Tahun 1979 saat anak saya baru berumur dua tahun saya diberi tahu bahwa saya ditugaskan sekolah ke Asian Institute of Technology di Bangkok Thailand dengan biaya dari UNDP, badan PBB.

Awal Januari 1979 saya tinggalkan keluarga menuju Bangkok Thailand memasuki Asian Institute of Technology (AIT). AIT adalah perguruan tinggi teknik ternama di kawasan Asia Tenggara. Mahasiswanya tidak saja berasal dari Asia Tenggara tapi juga berdatangan dari Jepang sampai ke Taheran Iran. Kampusnya indah. Lengkap dengan asrama mahasiswa bujangan dan asrama mahasiswa yang berkeluarga serta fasilitas penunjang lainnya seperti toko buku, kolam renang, lapangan golf, lapangan bola kaki, bioskop, restoran dan sebagainya, yang sangat jauh berbeda dengan kampus tempat saya menimba ilmu,  IKIP Bandung. Restoran untuk mahasiswa  menyediakan makanan barat, India, Thai, dan Muslim.

Hanya tiga bulan saya sendirian di Dormitory/ Asrama AIT. Isteri, dan anak saya menyusul  tiga bulan kemudian. Tiga bulan sesudah itu  menyusul lagi ibu mertua saya. Untuk menunjang kehidupan saya selama kuliah tak ada masalah. Tunjangan belajar saya cukup besar, $ US 8000,- per bulan  lebih dari cukup untuk biaya hidup di Bangkok.  Kami tinggal di Student Village perumahan mahasiswa khusus bagi yang berkeluarga. Sementara saya kuliah di Jurusan Hydraulic Engineering atau jurusan Teknik Keairan, istri saya mengambil kursus di Kota Bangkok. Anak saya Erika Nandina diasuh oleh neneknya, dan telah mulai fasih berbahasa Thai. Kemudian hari, 30 tahun kemudian,  tahun 2008 anak saya Erika Nandina yang meminum air Bangkok sewaktu kecilnya,  kembali lagi ke Bangkok  mengikuti suaminya yang bekerja di Perusahaan Toyota Motor di Bangkok. Saya memperoleh seorang cucu laki-laki yang lahir di Bangkok. Raja Thailand memberinya hadiah  uang 3000 Bath sebagai tunjangan melahirkan di Thailand.

Setamat dari AIT dan memperoleh gelar Diploma of Asian Institute of Technology (Dipl. AIT) saya kembali ke Bandung melanjutkan kegiatan penelitian di Laboratorium Hidrolika mengaplikasikan apa yang telah saya peroleh selama  kuliah di AIT.

Beberapa tahun kemudian, atas reputasi saya, JICA (Japan International Cooperation Agency) menawari saya untuk melakukan training di Tsukuba Shi Jepang. Training yang dilakukan adalah untuk mendalami bidang Irrigation & Drainage Engineering. September 1991 saya berangkat menuju Jepang yang dahulu kala dikenal dengan negara Saudara Tua . Setelah beberapa hari di Tokyo saya dan pengantar berangkat ke Tsukuba Shi. Saya kuliah  di National Research Institute of Agriculture (NRIA) Tsukuba Shi. Di samping kuliah di kelas dilakukan pula kunjungan lapangan ke berbagai bendung dan daerah irigasi di saentereo Jepang.

Sebagian  bendung/bendungan dan daerah irigasi  di Jepang,  mulai dari Pulau Sapporo di utara sampai  ke Nagasaki di selatan  saya kunjungi. Kunjungan lapangan tesebut dilakukan untuk  mempelajari sistem irigasi dan bendung  di Jepang.

Sistem irigasi Jepang sangat maju. Air irigasi diberikan ke masing-masing  petak sawah dengan ukuran tertentu. Air di petak sawah bisa diisi  dan bisa pula dikeringkan.  Berbeda dengan sistem irigasi kita, yang pemberian airnya dari petak sawah ke petak sawah. Petak sawah yang  paling ujung, paling akhir menerima air. Pola sistem irigasi Jepang yang sangat maju ini jadi mimpi saya untuk menerapkannya di Indonesia. Mimpi tersebut, 15 tahun kemudian dapat juga jadi kenyataan dengan dibangunnya pilot proyek kincir air di Padang Japang. Air dari kincir air saya rancang masuk ke dalam bak tampungan. Dari bak tampungan air dialirkan dengan pipa pvc ke masing-masing petak sawah. Air ke petak sawah bisa diisi dan bisa pula dihentikan dengan kran pengatur.  Mimpi saya terwujud. Suatu hal yang sangat membahagiakan  seorang peneliti ialah jika rancangannya berhasil guna dan beroperasi dengan baik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Saya tinggal di Tsukuba International Center (TIC) bersama  beberapa orang mahasiswa Indonesia, Malaysia dan dari negara lainnya. Ada satu hal yang menarik diluar perkuliahaan di TIC Tsukuba. Setiap akhir pekan kami mahasiswa – mahasiswa Indonesia di dikunjungi  oleh seorang Pak Tua bekas lasykar Jepang Dai Nippon. Pada tahun 1942-1943, ia bertugas di Bukittinggi jadi mata-mata. Ia masih bisa berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Entah merasa menyesal atau ingin balas jasa maka ia selalu mengunjungi kami. Setiap ia datang pasti bawa oleh-oleh. Kami senang dengar cerita dan pengalamannya.

Jepang juga terkenal dengan kereta api super cepatnya, shinkansen namanya. Suatu ketika  saya bertugas ke Kyoto. Untuk menuju kota ini saya menaiki  kereta api Nozomi Shinkansen.  Kecepatannya 280 km/jam. Interiornya sangat bagus. Getarannya pun tak terasa. Setelah mengikuti training selama tiga bulan saya kembali ke Indonesia.

Pada awal Januari 2010 saya ditugasi lagi ke Jepang. Tugas kali ini dalam rangka hibah pemerintah Jepang melalui JICA. Yaitu untuk pelaksanaan Capacity Development Project for River Basin Organizations in Practical Water Resourses Management  & Technology  in Indonesia.

Saat menginjakkan kaki  di Tokyo  Januari 2010 suhu  udara berkisar  antara 2 – 50 C. Sangat dingin untuk ukuran kita orang Indonesia. Di Ashio salah satu daerah yang kami kunjungi,  bagian utara Tokyo, sudah turun gerimis salju. Siangnya lebih pendek dibandingkan dengan malam. Pukul 17.00 matahari sudah terbenam dan baru terbit pukul 06.30.  Dengan kondisi seperti ini kami bertugas untuk mempelajari dan memperoleh informasi Operasi dan Manajemen  Sungai dan Fasilitasnya di Jepang.

Orang Jepang sangat bangga dengan bahasanya. Jarang yang bisa berbahasa Inggris. Kami diterima oleh Walikota Kiryu dan President Japan Water Agency (JWA), dan pejabat-pejabat terkait  lainnya. Mereka semua berbicara dengan bahasa Jepang. Untuk mempermudah komunikasi dan agar kami mengerti, JICA menyediakan seorang petugas Jepang sebagai koordinator/penterjemah.

Sangat kebetulan penterjemah kami adalah orang Jepang yang bisa berbahasa Indonesia. Dan kebetulan pula istrinya asli  Minang dan tinggal di Tokyo. Memang orang Minang berdarah perantau, jadi merantau kemana-mana ke belahan  dunia ini.

Penterjemah tersebut  namanya Hidetoshi Tomita suami si orang Minang. Ia seorang muslim. Jika tiba waktu sholat yang tempatnya memungkinkan kami sholat jamak qasar berjemaah. Dan jika di atas bis atau shinkansen kami sholat sambil duduk. Jika tiba waktu sholat ia memberi tahu bahwa telah masuk waktu sholat. Dan jika makan ia menunjukkan makanan halal. Ia seorang muslim yang tidak setengah-setengah, kaffah.

Saat saya di Jepang,  kala itu putri bungsu saya, yang tulen Minang  berada di Belgia Eropa dan kakaknya ikut suaminya di Bangkok.  Kalau dibuka ”pendaftaran” ke bulan maka tentu orang Minang akan  mendaftar pula untuk merantau  ke sana.

Dari pengalaman selama dua kali kunjungan saya ke Jepang yang saya kagumi ialah sikap masyarakat Jepang yang sudah maju tapi tidak meninggalkan budayanya. Orang Jepang sangat disiplin, dan pekerja keras. Mulai dari anak-anak sudah dilatih dengan budaya antri.  Diajari cinta lingkungan, yang sudah masuk jadi kurikulum sekolah tingkat SD.

Foto 1. Berdiskusi di tengah salju utara Tokyo (kiri). Sisi luar Istana Kaisar Jepang

Foto 2. Berpidato di Tokyo International Center (TIC)

  1. 2. Bertugas di Berbagai Pelosok  Nusantara

1) Penyediaan air baku di Pulau Marore

Salah satu tugas saya di Pusat Litbang Sumber Daya Air adalah memberikan advis teknik terhadap permasalahan bangunan keairan, membangun pilot project/percontohan teknologi tepat guna bidang sumber daya air seperti penyediaan air baku, penyediaan energi listrik dengan pembangkit listrik mikro hidro. (PLTM) di seluruh Indonesia.

Pada tahun 2007 – 2008 Pusat Litbang SDA,  mempunyai  kegiatan penyediaan air baku penduduk untuk pulau-pulau kecil terluar perbatasan yaitu perbatasan Sulawesi Utara dan Philipina, perbatasan Kepulauan Riau dan Malaysia, serta Singapura, perbatasan NTT dan Australia. Saya ditugasi menjadi Ketua Tim Kegiatan tersebut.

Untuk itu saya kunjungi beberapa pulau kecil perbatasan yaitu Pulau Natuna di Kepulauan Riau, Pulau Batik, Nunukan di Kalimantan Timur dan Pulau Marore di perbatasan Sulut dengan Philipina.

Pulau Marore hanya sebuah titik yang tak tampak dalam peta, lebih dekat dengan Pulau Balut Philipina. Hanya 2,5 jam pelayaran dari Pulau Marore Ke Pulat Balut. Pulau Marore dapat dicapai dengan kapal laut  dari Menado, ke Tahuna di Pulau Sangihe, Pulau Kawaluso, Pulau Kawio  dan akhirnya baru sampai di Pulau Marore setelah menempuh perjalanan laut selama dua hari dua malam.

Pulau Marore luasnya 2,50 kilometer persegi dengan penduduk 607 jiwa. Mata pencarian penduduk utamanya  nelayan. Pulau ini adalah satu dari 12 pulau kecil
perbatasan yang perlu diperhatikan. Sumber air baku untuk air minum penduduk sangat tidak mencukupi. Karena itu direncanakan penampungan air hujan yang curah hujannya cukup tinggi di pulau ini.

Persoalannya adalah bagaimana menjadikan air hujan yang miskin mineral menjadi layak minum dan bagaimana menyediakan prasarana penampungan air hujan. Material pasir dan batu pulau ini tidak boleh digunakan untuk pembangunan karena dikhawatirkan akan merusak lingkungan dan melenyapkan pulau.

Suatu rancangan teknologi saya ciptakan dengan teman-teman peneliti di Bandung. Yaitu suatu bak dari bahan fiber yang dapat dirakit dan dapat dibawa dengan mudah ke tempat yang jauh dan bisa menjadikan air hujan bermineral dengan aquifer buatan. Bak ini dikirim dari Bandung ke Pulau Marore dengan kapal laut.

Selesai terpasang, langsung terisi air guyuran hujan lebat.  Pada tanggal 16 Agustus, langsung dilaporkan oleh camat setempat  ke Presiden RI, di Istana di Jakarta  dari Pulau Marore via wawancara jarak jauh yang disediakan oleh Telkom.

Inilah kebahagian tersendiri saya dalam melakukan tugas, memberikan kebajikan kepada masyarakat dan ikut memberikan kontribusi dalam membangun keutuhan negara kesatuan RI sehingga kasus Pulau Simpadan dan Ligitan tidak terulang lagi.

2).       Penerapan dan Penelitan Kincir Air

Pengembangan kincir air diawali dari penelitian kincir air sejak tahun 1995  di laboratorium hidrolika Puslitbang Sumber Daya Air oleh Rustam Effendi, Sofyan Dt.Majo Kayo dan saya sendiri. Setelah beberapa kali melakukan uji coba diperoleh tipe kincir air yang disebut dengan Kincir Air Tipe Pusair bahan utama besi.

Pada tahun 2000 hasil penelitian kincir air,  diterapkan di Timika Papua. Penerapan di Papua tak mudah, karena kincir seberat 800 kilogram harus diangkut ke Timika Papua. Untuk itu difikirkan teknologi kincir yang dapat dibongkar – pasang yang dapat diangkut  dari Bandung ke Papua yang terletak ribuan kilometer dari Bandung.

Pada tahun 2005 saya usulkan untuk menerapkan Kincir Pusair dengan sistim irigasinya  di Padang Japang. Pembangunan Kincir Pusair di Padang Japang, dilatar belakangi bahwa telah banyak yang saya perbuat untuk pembangunan di daerah lain di Indonesia, sedangkan di daerah kampung halaman tanah kelahiran,  saya belum berbuat yang berarti..

Penerapan kincir air di Padang Japang juga dengan maksud mewujudkan mimpi saya menjadi kenyataan yakni sistim irigasi pola Jepang. Dimana air dari sumbernya dialirkan ke masing-masing petak sawah. Air bisa diatur dengan kran pengatur sehingga bisa diisi dan dikeringkan kapan dimaui.  Kehilangan air dalam perjalanannya juga diminimilisir.

Saya ditugasi sebagai Ketua Tim dalam Penerapan bangunan Kincir Pusair ini. Awal tahun  2006,  dilakukan pekerjaan survai, pengukuran situasi sungai di sekitar lokasi bangunan, dan desain bangunan perlengkapan kincir seperti bangunan pengarah aliran, pengaman tebing dan sebagainya.

Pada tanggal 19 Juli 2006 Puslitbang Sumber Daya Air melakukan  kerja sama dengan kontraktor  PT. Fajar Kridatama Jakarta untuk  Penerapan Teknologi Kincir Air Pusair tersebut.

Hingga kini Kincir Pusair di Padang Japang  dan sistim irigasinya  masih beroperasi dengan baik. Suatu hal yang membanggakan yakni penerapan hasil litbang  bisa bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat.

3).       Penyediaan  Listrik di Desa  Tertinggal

Pada  tahun 1998 saya ditugasi menjadi  Ketua Tim untuk penyediaan listrik di daerah Cibeber Sukabumi Selatan. Daerah ini terletak nun jauh di sana di bagian selatan Jawa Barat, sebuah desa yang dikategorikan dengan desa tertinggal. Desa ini tidak dapat dicapai dengan kendaraan roda empat. Tidak ada aliran listrik. Penerangan hanya dengan lampu semporong/cempor. Jalannya hanya pematang sawah. Penduduknya sekitar 800 orang. Namun demikian di desa ini mengalir sungai yang cukup besar dan dilintasi  saluran irigasi. Berbekal hasil penelitian yang telah kami lakukan  sebelumnya dan dana yang dikucurkan oleh pemerintah pusat maka dibangunlah PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) di daerah ini.  Hasilnya dapat memasok listrik untuk 50 rumah, 1 mushalla dan 1 mesjid. Masyarakat setempat  sangat berbahagia menikmati penerangan listrik ini. Dan sayapun terharu melihat kebahagiaan mereka.

  1. 3. Ditangkap di Aceh

Waktu  itu adalah zaman DOM (Daerah Operasi Militer ) di Aceh. Jam malam masih diberlakukan. Perang antara TNI dan GAM masih berkecamuk di beberapa tempat.

Saya memimpin tim untuk melakukan identifikasi kerusakan sungai dan bendung di Aceh Utara mulai dari Lhok Seumawe, Peusangan,  Samalanga dan Sigli. Kegiatan ini atas permintaan Pemerintah Daerah setempat.  Suatu ketika kami survei, bendung Samalanga namanya. Letaknya sangat jauh di hulu sungai dalam rimba. Tak ada perkampungan dan penduduk menuju ke sana. Kami melakukan survai berempat dengan petunjuk jalan dari petugas PU setempat. Ia asli orang Aceh.

Dalam keadaan peninjauan dan mengidentifikasi bendung, tiba-tiba tampak di kejauhan kumpulan orang   yang bersenjata, sehingga diputuskan untuk kembali. Tapi apa dinyana. Mobil yang diparkir di tempat yang agak jauh dari bendung telah digeledah oleh seseorang yang bersenjata. Tak jelas identitasnya, tak bersepatu dan tidak berseragam.  Apakah ia TNI atau tentara GAM. Semua peralatan dalam mobil telah dikeluarkannya. Lalu ia mulai mengitograsi kami  satu persatu. Setelah sekian lama dalam keadaan ketakutan, kemudian kami dilepaskan. Ternyata ia adalah seorang TNI yang baru usai bertempur dengan anggota GAM.

  1. 4. Pengalaman dalam Mengatasi Persoalan dan Merancang Bangunan Teknik Keairan

Saudara-saudara jangan bertanya, apa yang dapat dilakukan oleh  negara untuk kalian, tetapi tanyakanlah apa yang dapat kalian lakukan untuk negara ( John F Kennedy-1961).

Pidato President John F Kennedy tahun 1961 ini selalu mengilhami saya dalam melakukan kegiatan baik itu mengatasi persoalan bangunan keairan yang terjadi di lapangan maupun dalam merancang bangunan keairan. Yang penting bagi saya, bagaimana saya dapat menyelesaikan masalah dan bagaimana mencari solusinya dan bukan bertanya  berapa saya harus  diberi insentif. InsyaAllah rezeki mengalir tanpa diminta.

Suatu ketika, pada waktu itu Timor Timor belum lama bergabung dengan Indonesia. Saya ditugasi ke Timor Timur  untuk melakukan survai pembangunan bendung di daerah Maliana. Tak ada jalan darat waktu itu. Satu-satunya jalan adalah  naik helikopter sewaan.  Karena itu kami menyewa heli tersebut. Saya duduk di sebelah pilot. Senjata otomatis laras panjang di kaki saya. Dalam perjalanan terjadi hujan badai. Sang pilot berputar-putar, naik–turun menghindari badai. Tiba-tiba pintu pesawat di kiri saya terbuka dan pesawat miring. Dalam ketakutan, saya kasih tau pilot dan saya tunjuk pintu yang terbuka. Pilot memberi aba-aba tak apa-apa. Tetapi saya sudah sangat cemas dan ngeri. Inilah pengalaman pahit dalam menjalankan tugas.

Berkali-kali saya ke Timor Timor sesudah itu untuk merancang daerah irigasi dan pembangunan bendung. Beberapa tahun kemudian bendung yang saya rancang di daerah Caraulun selatan TimTim telah jadi dan beroperasi dengan baik mengairi lahan menjadi beririgasi dan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Saya bersyukur dan bangga. Tak lama kemudian TimTim bergolak dan memisahkan diri dari Indonesia. Bendung yang saya ikut andil dan berperan dalam pembangunannya menjadi berada di luar Indonesia. Inilah satu-satunya hasil karya litbang saya yang berlokasi di luar negeri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s